Jumat, 11 Januari 2013

THREE MORE DAYS : Dua Suara dalam Sosok “SAYA”

THREE MORE DAYS : Dua Suara dalam Sosok “SAYA”
Oleh :
Ayu Wibowo Handayani
121111076

/1/
Sastra menunjukkan keistimewaan, barangkali juga keanehan yang mungkin tidak dapat di lihat pada ilmu pengetahuan lain ; obyek kajiannya yang tidak menentu. Sastra sendiri berarti tulisan yang indah, jadi dapat di simpulkan, ilmu sastra adalah ilmu yang mengkaji tulisan-tulisan yang indah, baik teks prosa, puisi, drama, dan naskah-naskah kuno. Dengan membaca karya sastra, maka akan ada sesuatu yang kita dapati, semisal pencerahan. Karena, karya sastra itu sendiri adalah tulisan yang indah, tentunya dalam tulisan yang indah tersebut mengandung nilai bermutu yang di dalamnya mengandung makna. Mengingat kembali satu jargon sastra ‘dulce et utile’ (menghibur sekaligus mendidik, semoga tidak salah). Sesuai dengan jargon sastra tersebut, makna yang di dapat dari karya sastra itu sendiri pastilah mengandung makna mendidik, yang di dalam sebuah karya sastra itu sendiri mempunyai arti terselubung. Berdasarkan pengalaman pribadi, karya sastra memang karya yang bermutu, hasil dari imajinasi pengarang yang di tuangkan dalam bentuk pelbagai gaya tulisan yang indah, bahasa yang bila anak muda bilang “wow” karena butuh energi ekstra untuk mencerna tulisan bermutu yang ndakik-ndakik tersebut, bahasanya yang terbilang susah memang mencerdaskan, sebab sedikit-sedikit harus membuka kamus. Mungkin, menurut saya, inilah yang menyenangkan dari sastra selain estetikanya, menguak apa yang disebut ndakik-ndakik tersebut dengan menggunakan berbagai teori dan penafsiran. Menemukan arti implisit dan eksplisit yang terkandung dalam teks, sekaligus menemukan apa yang di sebut “mendidik” dari jargon sastra tersebut.
            Kali ini, dalam cerpen Three More Days karya Djenar Maesa Ayu, penulis berusaha membredel isi dari cerpen ini. Cerpen Djenar ini memiliki keunikan, yaitu pada ceritanya, bercerita tentang pergolakan batin dan kegalauan yang di alami oleh dua orang yang tersaji pada sosok yang sama yaitu “saya”. Bila dibaca sekilas, kita akan menangkap bahwa tokoh pada cerpen ini hanya ada satu orang, tapi bila di baca berkali-kali maka akan didapati kebingungan. Menurut pembacan saya sendiri, dalam cerpen ini hanya ada dua suara,yaitu si laki-laki dan perempuan, tapi selain dua suara ini, juga ada suara lain, yaitu si laki-laki yang menceritakan perempuan, dan si perempuan yang bercerita mengenai laki-laki. Tapi yang paling dominan adalah dua suara, si lelaki dan si perempuan. Terdapat unsur-unsur polifonik dalam cerpen ini, maka dari iu, penlis berusaha mencari dan menggali unsure-unsur yang ada di dalamnya.

/2/
Dalam cerpen Three More Days ini, penulis berusaha menggali unsur-unsur polifonik yang ada didalamnya. Dalam cerpen ini, terlihat keunikan-keunikan, terutama pada penceritannya dan tokohnya. Di sini seolah sosok pengarang sebagai penulis dan pencerita tidak terlit, justru seolah-olah cerita ini hidup sendiri, bercerita sendiri. Membaca cerpen ini, membuat bingung, karena tokohnya yang tidak jelas, dan harus membacanya berkali-kali untuk memahami.

/3/
Sastra tidak berhubungan dengan wawasan dan ilmu pengetahuan, tetapi dengan kepercayaan, simpati, dan harapan kepada kehidupan. Sastra adalah disiplin yang membebaskan. Yang membedakan sebuah buku filsafat atau sebuah buku ilmiah dari sebuah karya sastra ialah bahwa mengulang-ulang membaca karya ilmiah yang sama dapat dengan cepat menimbulkan kebosanan dan cepat mendatangkan rasa jenuh, sedangkan mengulang membaca sebuah karya sastra selalu menimbulkan kesegaran baru. Kesegaran baru ini terlihat pada karya sastra Djenar Maesa Ayu pada kumpulan cerpennya “Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek”. Dalam salah satu cerpennya yang berjudul “Three More Days”, untuk memahami betul cerpen ini, di perlukan waktu tambahan, barang sebentar, mencerna rangkaian-rangkaian kata, yang bila di baca sekilas terlihat sama, tapi bila lebih di cermati ada banyak hal yang berbeda. Dalam pembacaan saya, cerpen Three More Days ini terkesan kacau dan tidak teratur. Cerpen ini hanya memiliki satu sudut pandang yaitu “saya”, tapi “saya” dalam cerpen ini tidak hanya satu suara, ada dua suara. Jadi dalam cerpen ini ada sosok “saya” yang berjumlah dua. Dan masing-masing sosok “saya” dalam cerpen ini mempunyai cerita tersendiri, menyuarakan cerita sendiri. Cerita masing-masing sosok “saya” dalam cerpen ini saling bertautan antara satu dengan yang lainnya. Kesan yang di timbulkan dalam cerpen ini ialah kedua sosok “saya” tersebut saling berdialog, dan pada dialognya menunjukkan ke-eksistensiannya masing-masing. Perbedaan suara pada cerpen Three More Days ini, dapat di amati dalam cerita berikut.
·         Laut selalu membuat saya tidak ingin pulang. Dengan atau tanpa orang lain. Dengan atau tanpa kekasih. Dengan atau tanpa kepentingan. Dengan atau tanpa alasan.

Saya benar-benar tidak ingin pulang sekarang. Apalagi saya tidak sendirian. Saya bersama laki-laki yang juga tidak ingin pulang. Tetapi kami harus pulang. Pulang meninggalkan laut malam yang bergerak tenang. Pulang meninggalkan perbincangan yang kami lakukan sambil duduk di atas karang. Pulang meninggalkan peluk dan ciuman dibawah kerlingan malu-malu bintang.
      Tapi kami benar-benar tidak ingin pulang sekarang. Pulang kepada beku pendingin ruangan yang meranggas seprai ranjang. Pulang kepada tubuh yang tidak sudi lagi telanjang. Pulang kepada cinta yang akan segera terhalang. Pulang kepada rindu yang terlarang.
      Apakah yang sedang mengikat perasaan kami sekarang. Laut, atau cinta ? Tapi masing-masing kami sudah terikat dalam mahligai perkawinan. Lantas kenapa sekarang kami ada di sini. Untuk laut, atau cinta?


·         Saya merasa harus pulang. Ponsel saya sudah berbunyi berulang-ulang. Saya jemu dengan perang mulut, perang batin, perang tangan. Saya jemu dengan pertanyan-pertanyaan yang hanya akan terjawab dengan ketidakjujuran. Saya muak! Tau gak kamu? Saya muak! Tapi saya memang pecundang. Saya tidak berani melepas rasa aman. Saya tidak berani mengatakan kebenaran. Saya takut kehilangan. Saya takut dicap tidak tahu diri. Saya takut dicap jahat. Saya takut dicap tidak bertanggung jawab. Saya takut dicap tidak mensyukuri rahmat Tuhan. Saya takut. Tau gak kamu? Saya takut!


·         Saya tidak akan takut kalau suami saya bajingan. Saya tidak akan takut kalau suami saya juga melakukan kesalahan. Saya tidak akan takut kalu suami saya mampu meninggalkan. Saya tidak akan takut kalau suami saya tidak akan terlukai perasaan. Kenapa ia bukan bajingan? Kenapa ia tidak melakukan kesalahan. Kenapa ia tidak mampu meninggalkan? Kenapa ia akan terluka jika saya memberitahu kebenaran? Kenapa, Setan! Kenapa saya tidak bisa lebih mencintai manusia yang bukan bajingan?!


·         Tau gak kamu? Saya mau mabuk! Saya tak ingin sadar. Tak ingin ingat. Tapi ponsel itu masih berdering. Pesan-pesan tertulis semakin banyak tersimpan. Tidak sekadar menanyakan. Tidak sekadar pemberitahuan. Tapi juga amarah. Tapi juga sumpah serapah. Tentang tanggung jawab yang tak dilaksanakan. Tentang cinta sejati yang dibalas dengan tahi ayam. Tentang ikrar yang dilanggar. Tentang apa pun, selain cinta. Tentang apa pun yang berhubungan dengan keharusan.

            Dari hal di atas, dapat diketahui bahwa cerpen “Three More Days” ini bercerita tentang pergolakan batin dan kegalauan yang di alami oleh dua orang yang tersaji pada sosok yang sama yaitu “saya”. Bila dibaca sekilas, kita akan menangkap bahwa tokoh pada cerpen ini hanya ada satu orang, tapi bila di baca berkali-kali maka akan didapati kebingungan. Menurut pembacan saya sendiri, dalam cerpen ini hanya ada dua suara,yaitu si laki-laki dan perempuan, tapi selain dua suara ini, juga ada suara lain, yaitu si laki-laki yang menceritakan perempuan, dan si perempuan yang bercerita mengenai laki-laki. Tapi yang paling dominan adalah dua suara, si lelaki dan si perempuan.
Dalam cerita ini ada 2 orang yang saling mencintai, seorang perempuan dan seorang laki-laki, tapi mereka telah mempunyai pasangan masing-masing dan telah terikat dalam pernikahan. Namun, mereka melakukan sebuah perlawanan bahwa saling cinta tak berarti harus menikah. Mereka berdua bertemu dengan sembunyi-sembunyi tanpa di ketahui suami atau istri mereka. Meluapkan rasa cinta dalam hubungan tanpa ikatan. Mereka ingin selalu bersama, namun hal ini tidak bisa, karena mereka telah mempunyai ikatan dengan yang lain.
Di dalam cerpen “Three More Days”, setiap tokoh mempunyai cerita tentang keinginannya, dan bisa di katakan bahwa kedua tokoh dalam cerpen ini sedang curhat perihal diri mereka sendiri, apa yang mereka alami kepada pembaca, pun juga tak sepenuhnya curhat. Disini mereka (kedua tokoh “saya”) juga mengajak pembaca untuk berkomunikasi dengan mereka. Pembaca di ajak masuk dalam pergolakan batin dan kegalauan yang di alami oleh kedua tokoh “saya”, sehingga membuat pembaca menjadi campur aduk. Kedua tokoh “saya” pada cerpen “Three More Days” dapat dilihat pada penggalan cerita berikut.
1.      Sosok “saya” yang pertama dalam narasi dapat di amati sebagai berikut.
Laut selalu membuat saya tidak ingin pulang. Dengan atau tanpa orang lain. Dengan atau tanpa kekasih. Dengan atau tanpa kepentingan. Dengan atau tanpa alasan.

Saya benar-benar tidak ingin pulang sekarang. Apalagi saya tidak sendirian. Saya bersama laki-laki yang juga tidak ingin pulang. Tetapi kami harus pulang. Pulang meninggalkan laut malam yang bergerak tenang. Pulang meninggalkan perbincangan yang kami lakukan sambil duduk di atas karang …
Tetapi kami benar-benar tidak ingin pulang sekarang. Pulang kepada beku pendingin ruangan yang meranggas seprai ranjang. Pulang kepada tubuh yang tidak sudi lagi telanjang. Pulang kepada cinta yang akan segera terhalang. Pulang kepada rindu yang terlarang.
Apakah yang sedang mengikat perasaan kami sekarang. Laut, atau cinta ? tetapi masing-masing kami sudah terikat dalam mahligai perkawinan …

Dapat kita amati dari penggalan cerita di atas bahwa sosok “saya” adalah seorang perempuan. Sosok “saya” yang dalam suaranya bercerita bahwa dia sedang berada di laut bersama seorang lelaki. Mereka berdua ingin tetap berada di laut. Berdua. Tidak ingin pulang. Tapi mereka dalam kegalauan, bahwa mereka harus pulang. Sosok “saya” dan lelaki ini sudah mempunyai pasangan masing-masing. Dapat disimpulkan bahwa sosok “saya” di sini adalah seorang perempuan yang telah mempunyai suami, yang mempunyi hubungan gelap dengan lelaki lain yang telah beristri.

2.      Sosok “saya” yang kedua dapat kita amati pada penggalan cerita berikut.
Saya merasa harus pulang. Ponsel saya sudah berbunyi berulang-ulang. Saya jemu dengan perang mulut, perang batin, perang tangan. Saya jemu dengan pertanyan-pertanyaan yang hanya akan terjawab dengan ketidakjujuran. Saya muak! Tau gak kamu? Saya muak! Tapi saya memang pecundang. Saya tidak berani melepas rasa aman. Saya tidak berani mengatakan kebenaran. Saya takut kehilangan. Saya takut dicap tidak tahu diri. Saya takut dicap jahat. Saya takut dicap tidak bertanggung jawab. Saya takut dicap tidak mensyukuri rahmat Tuhan. Saya takut. Tau gak kamu? Saya takut!

             Dari penggalan ceria di atas, dapat diketahui bahwa sosok “saya” adalah seorang laki-laki. Sosok ini menceritakan tentang kegalauan hatinya, dia ingin segera pulang karena ponselnya yang terus berbunyi di telpon istrinya. Di satu sisi ia ingin lari dari istrinya, ingin bersama selingkuhannya, disisi lain, dia takut, karena dia telah mempunyai tanggung jawab . penggalan cerita diatas menegaskan yang berbicara adalah seorang laki-laki, yang bisa dikatakan “pecundang” dan “penakut”.






Three More Days
Deskripsi tokoh “Saya”
Rounded Rectangle: SAYA 

1.      Sosok Saya Pertama adalah perempuan yang telah mempunyai suami tetapi dia berselingkuh dengan laki-laki yang menjadi sosok “saya” kedua

2.      Sosok Saya Kedua adalah seorang laki-laki yang sudah mempunyai istri, tapi berselingkuh dengan perempuan sebagai sosok “saya” yang pertama.  

Cerpen “Three More Days” ini bisa dikatakan masuk dalam prosa yang bergenre polifonik. Suara-suara tokoh dalam cerpen ini cenderung bebas, merdeka, mampu berdiri disamping, dan juga memberontak pada si pengarang.  Kebebasan yang ada pada cerpen ini tidak sekedar bebas. Pada sosok suara kedua tokoh “saya” dalam cerpen ini mempunyai kesadaran bebas tetapi dalam kebebasannya itu penuh dengan makna. Suara dan kesadaran dalam kedua sosok “saya” yang berbeda dalam cerpen ini memiliki kedudukan setara yang tergabung dalam kesatuan cerita dan pada saat yang sama, suara dan kesadaran itu mampu mempertahankan keterbatasannya. Di dalam cerpen ini, kedua tokoh “saya” yang berbeda, seolah-olah berbicara sesuai peran mereka dan suara pengarang terlepas, malah suara pengarang seperti tidak ada. Selain itu, antara tokoh “saya” yang satu dengan yang lain dalam alur cerita seperti sedang berdialog, mempunyai hubungan antar cerita sosok “saya” yang satu dengan sosok “saya” yang lainnya.
/4/
Cerpen “Three More Days” ini bisa dikatakan masuk dalam prosa yang bergenre polifonik. Suara-suara tokoh dalam cerpen ini cenderung bebas, merdeka, mampu berdiri disamping, dan juga memberontak pada si pengarang.  Kebebasan yang ada pada cerpen ini tidak sekedar bebas. Pada sosok suara kedua tokoh “saya” dalam cerpen ini mempunyai kesadaran bebas tetapi dalam kebebasannya itu penuh dengan makna. Suara dan kesadaran dalam kedua sosok “saya” yang berbeda dalam cerpen ini memiliki kedudukan setara yang tergabung dalam kesatuan cerita dan pada saat yang sama, suara dan kesadaran itu mampu mempertahankan keterbatasannya. Di dalam cerpen ini, kedua tokoh “saya” yang berbeda, seolah-olah berbicara sesuai peran mereka dan suara pengarang terlepas, malah suara pengarang seperti tidak ada. Selain itu, antara tokoh “saya” yang satu dengan yang lain dalam alur cerita seperti sedang berdialog, mempunyai hubungan antar cerita sosok “saya” yang satu dengan sosok “saya” yang lainnya.

Sekilas Tentang MK (Malam Keakraban)

-->
Malam keakraban mahasiswa baru Fakultas Ilmu Budaya telah berlalu.  Kegiatan tahunan ini dilaksanakan oleh jurusan Sastra Indonesia di Selorejo Malang, Sastra Inggris dan Ilmu Sejarah di Cuban Rondo Malang, Sastra Jepang di Pacet Mojokerto, dan D3 Bahasa Inggris di Cuban Talun Malang, dan tepat di laksanakan serempak pada tanggal 12 sampai 14 Oktober 2012.
Berdasarkan kuisioner yang telah disebarkan kepada saebagian besar mahasiswa baru FIB setelah mengikuti MK, ke efektifan MK garapan pengurus himpunan mahasiswa kelima jurusan di FIB ini dapat dikatakan berhasil, walau masih ada beberapa mahasiswa yang kurang dapat menerima dengan adanya MK yang notabene melelahkan, menakutkan, sekaligus memusingkan karena harus mengurusi barang bawaan yang bermacam-macam dan menghabiskan biaya yang cukup banyak. Namun dibalik itu semua terdapat nilai kebersamaan dan kepekaan sosial yang tinggi. Terbukti dari komentar sebagian besar mahasiswa baru yang mengapresiasi kebersamaan dan kekompakan angkatan, serta susah-senangnya MK dengan berbagai tugas yang diberikan dapat mempersatukan ideologi dan perasaan mereka.
Malam keakraban (MK) merupakan suatu wadah yang di dalamnya diberlakukan berbagai metode pembentukan kepekaan sosial internal angkatan pada mahasiswa baru. Bukan untuk melampiaskan emosi angkatan atas (baca: senior) sebagai ajang balas dendam. Seharusnya yang ada pada malam MK adalah kegiatan-kegiatan edukatif menjadi mahasiswa jurusan yang bersangkutan, semacam kegiatan yang dapat menjadi pelajaran pengendalian massa, mengkoordinir, dan pengolahan problem angkatan. Dengan berbagai ihwal tersebut diharapkan dengan usai diikutinya malam keakraban maka mahasiswa baru akan menjadi mahasiswa yang faham situasi ke-mahasiswa-an, sehingga menjadi mahasiswa yang aktif dan berprestasi. Karena itu, diharapkan panitia mampu menjelaskan bagaimana menjadi mahasiswa pada zaman sekarang dalam menghadapi berbagai tantangan. Jadi, kelak, para mahasiwa baru bisa memperoleh pencerahan bagi diri sendiri bagaimana sebaiknya menjadi mahasiswa. Di samping itu malam keakraban akan menumbuhkan kekompakan angkatan karena mereka saling mengenal dan saling faham situasi ke-mahaaiswa-an sehingga mampu menjadi mahasiswa sejati.
Pola pikir mahasiswa baru dapat terbentuk dengan baik jika mampu mengambil intisari dari kegiatan MK. Di sinilah fungsi dan manfaat MK; segala pengetahuan yang diberikan akan membekas dalam diri mahasiswa. Mahasiswa baru adalah mahasiswa yang masih lugu, segala tindakan dan pendapat mereka mudah untuk dipatahkan. Karena itu membekali mahasiswa baru dengan hal-hal yang bersifat mencerdaskan lewat MK menjadi salah satu pintu untuk mengubah kepribadian mereka.
            Kini bukan zamannya lagi adanya tekanan-tekanan dalam kegian orientasi maba. Sejak PPKMB awal telah diumumkan peraturan pelarangan adanya kekerasan fisik maupun mental pada mahasiswa baru. Kembali lagi kepada tujuan pokok diadakannya kegiatan orientasi sebagai ajang pengenalan kampus kepada mahasiswa baru, termasuk pengenalan jurusan, angkatan, dan masing-masing personal angkatan.
Karena itulah, MK bisa dijadikan wahana yang tepat untuk memberikan pencerahan pada mahasiswa baru. MK yang mencerdaskan, yang  bersifat edukatif. Bukan wahana balas dendam yang membukakan peluang bagi mahasiswa untuk melakukan tindak kekerasan.

(Hasan/Ayu)

Kamis, 10 Januari 2013

Singkong dalam Modernitas, Masyarakat Urban, dan Identitas Antar Waktu


/1/
            Indonesia merupakan negara yang memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Dengan pesona alamnya yang masih subur dan hijau, dengan 16.000 pulaunya yang beragam, bahasanya yang mencapai ratusan, suku, seni dan budayanya, juga keunikan daerahnya masing-masing. Sebagai warga negara Indonesia kita seharusnya patut bersyukur dengan apa yang telah ada di Indonesia. Memanfaatkan segala yang ada dengan baik. Namun, hal ini masih belum memungkinkan. Di Indonesia banyak berdiri pabrik-pabrik milik luar negri, perusahaan milik pengusaha asing, berdiri mall-mall, pusat perbelanjaan yang meniru gaya asing. Segalanya di Indonesia sekarang ini mengikuti gaya kebarat-baratan. Banyak pengaruh asing yang masuk dan secara tidak langsung, pelan tapi pasti telah mempengaruhi dan menggerogoti sendi-sendi Indonesia.
            Indonesia kehilangan jati diri bangsa, kehilangan ibunya, hilang arah. Sekarang para masyarakat Indonesia sendiri belum tentu tahu, belum tentu mengerti segala sesuatu mengenai bangsanya sendiri. Dari adat, falsafah hidup, jati diri, dan seni budaya yang ada pada bangsanya. Ini dikarenakan adanya pengaruh-pengaruh asing yang masuk tanpa di saring terlebih dulu di Indonesia. Segala barang dan merek yang ada berasal dari luar negeri, segalanya serba impor, antara lain; kedelai impor, beras impor, sapi impor, dan berbagai macam bahan pokok dan barang lainnya.
            Dahulunya Indonesia adalah negara yang masih dibalut dengan nuansa tradisional yang sangat kental, namun seiring kemajuan teknologi, masuknya pengaruh barat ke Indonesia mengakibatkan adanya perubahan besar dimana segala sesuatu serba modern, serba canggih, cepat, instan, teknologi semakin beragam yang membuat segalanya serba mudah. Selain itu hal ini mempengaruhi perilaku masyarakar juga dimana konsumerisme masyarakat semakin tinggi, gaya hidup masyarakat juga berubah ke modern, dikesampingkannya nilai-nilai tradisional, juga memudarnya identitas kelokalan dalam tubuh setiap masyarakat.
            Dalam makalah ini penulis ingin menyampaikan salah satu dari imbas modernitas yang saat ini sedang terjadi, yaitu modernitas makanan. Tidak bisa dipungkiri di zaman yang serba canggih dan modern ini segala kebutuhan juga mengikuti arus zaman, mulai dari teknologi komunikasi yang modelnya beragam, life style dari pakaian, kecantikan, gaya hidup manusia itu sendiri juga berubah mengikuti zaman, dan salah satunya yang akan disampaikan penulis yaitu mengenai makanan. Di sini penulis menyoroti salah satu makanan tradisional Indonesia yang sekarang ini telah ikut melambung ke dunia modern yaitu singkong. Singkong merupakan makanan tradisional Indonesia, selain itu di beberapa daerah singkong juga telah menjadi bahan makanan pokok dalam kehidupan sehari-hari, biasanya yang mengkonsumsi singkong adalah masyarakat desa. Selain padi yang menjadi alternative makanan pokok, singkong pun juga tak ketinggalan, karena selain juga sama mengenyangkan, singkong juga mudah untuk ditanam, cepat besar, dan bagi masyarakat harga singkong bisa dibilang murah palagi untuk kantong wong cilik. Namun, seiring modernitasnya zaman, singkong semakin terpinggirkan, tergantikan dengan makanan modern dari luar seperti roti, chicken, pizza hut, burger, dan lain sebagainya. Paling-paling kita bisa menjumpai singkong rebus di desa, dan di kota, kita hanya menemui makanan yang berbau keju, saus, sandwich.
            Namun jangan salah, di zaman yang serba canggih ini tentu yang biasa-biasa bisa dirubah menjadi luar biasa, yang ndeso berubah modern, termasuk juga singkong, makanan dari desa ini pun bisa ngluyur ke kota dengan penampilan berbeda mengikuti arus zaman yang canggih ini. Dalam makalah ini penulis akan menggali maksud dari perubahan singkong dari tradisional ke modern, nasib singkong saat ini yang sudah di dandani dengan berbagai macam bedak, apa yang mendasari perubahan ini, dampak-dampak yang ditimbulkan khususnya pada masyarakat urban, serta identitas hubungan antar waktu yang dialami oleh singkong dari nuansa yang dulunya tradisional berubah menjadi style modern. 
/2/
Singkong sering disebut-sebut sebagai bahan makanan ndesa atau berasal dari kampung. Meski saat ini beraneka ragam usaha makanan yang berbahan dasar singkong mulai menjamur, namun rata-rata usaha tersebut masih bermotivasi untuk “mengangkat derajat” singkong supaya lebih bergengsi. Artinya, singkong masih dianggap sebagai bahan makanan rendahan. Banyak sekali gerai di seputar Jalan Kaliurang dengan mengusung indentitas yang sama sekali baru, seperti Singkong Talk, boleh dikatakan ingin mengarah kepada Bread Talk. Singkong sebagai identitas pangan yang dibudidayakan di Jawa dan sekitaranya dibuat sedemikian rupa untuk menyerupai pangan dalam rangka pemenuhan tuntutan modernitas. Di mata pemerintah dan masyarakat, singkong pun dianggap sebagai bahan makanan lokal yang perlu digalakkan sebagai bahan makanan pokok alternatif. Istilah bahan makanan lokal juga perlu dicermati, tidak hanya beras saja yang bisa menjadi makanan pokok, namun singkong juga bisa karena mengandung karbohidrat. Pun juga harga singkong terjangkau dibandingkan dengan harga beras yang mahal. Belum tentu semua masyarakat bisa menjangkaunya.
Namun pada zaman yang serba canggih ini, singkong telah bertransformasi dari makanan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat desa kini juga telah dikonsumsi oleh masyarakat kota. Singkong telah bertransformasi dari yang semula singkong hanya direbus dan diberi garam langsung bisa dimakan, kini telah menjadi makanan dengan berbagai macam penampilan dan bedak yang beragam. Keragaman inilah yang menjadi sebuah tanda tanya yang perlu dikuak dan digali lebih lanjut dengan adanya transformasi singkong yang semula tradisional ke modern, yang semula menjadi makanan kegemaran orang desa karena tinggal ambil di lading belakang rumah kini telah di gandrungi masyarakat perkotaan.
Transformasi Singkong dari Tradisional ke Moderen
            Di zaman yang serba canggih ini apapun bisa dilakukan, barang yang jelek bisa di ubah menjadi bagus, barang yang semulanya murahan bisa di rubah menjadi barang yang mahal, barang yang tidak dipakai bisa dimanfaatkan dengan segala kecanggihan teknologi saat ini. Begitu juga dengan singkong, makanan yang berasal dari desa ini kini telah sampai ke kota dengan penampilan baru yang lebih memikat konsumennya. Singkong semula hanya di konsumsi orang desa sebagai bahan makanan pokok, di rebus atau di goreng, dan sekarang ini singkong yang berada di kota telah mempunyai tampilan sendiri. Manusia semakin lama semakin cerdas, selain dirinya sendiri yang mengikuti arus modernitas, manusia dengan kecerdikan akalnya juga membuat singkong ikut ke arus modernitas. Selama ini sudah banyak sekali makanan-makanan modern yang menjamur, seperti pizza hut, burger, hot dog, chicken dan lain sebagainya. Makanan modern ini membuat makanan lokal semakin tergeser. Masyarakat semakin terpengaruhi citraan yang terdapat pada makanan-makanan modern. Para pemodal menciptakan symbol yang membuat masyarakat modern menjadi tergiur. Berbagai citraan dibuat semenarik mungkin hingga merubah pandangan masyarakat, khususnya mengenai makanan.
Makanan modern yang telah menjamur di pasaran terutama di kota, di mall-mall yang membuat masyarakat seringkali berpikiran bahwa inilah makanan orang modern, makanan orang masa kini, makanan orang berduit, makanan orang gaul. Bila tidak menkonsumsi makanan ini berarti bukan orang modern alias ndeso. Tidak hanya dari symbol, dan gambar saja tapi para pemodal juga mempublikasikan makanan-makanan ini lewat iklan di televise yang secara otomatis cepat sekali mempengaruhi masyarakat sehingga pandangan masyarakat berubah terhadap makanan. Efek yang ditimbulkan dari pencitraan yang berlebihan ini membuat masyarakat tidak peduli makanan ini sehat atau tidak karena bagi mereka dengan mengkonsumsi makanan ini mereka merasa prestise mereka telah naik.
Atas berbagai alasan inilah singkong hadir di dunia modern, mengikuti arus makanan-makanan modern dengan tampilan yang berbeda. Kini, kita bisa mengetahui di kota, di mall-mall telah banyak menjamur berbagai macam makanan berbahan dasar singkong seperti kripik singkong, singkong keju, singkong talk, singkong balado, dan singkong-singkong lainnya. Singkong telah di dandani oleh para manusia dari yang pada mulanya ndeso menjadi modern bersaing dengan makanan-makanan modern lainnya. Singkong sekarang ini di buat semenarik mungkin agar para masyarakat berminat. Dengan tampilan yang beragam seperti singkong keju yang merupakan perpaduan antara nuansa tradisional dan modern yang membuat masyarakat penasaran dan tertarik dengan singkong keju ini. Singkong Talk merupakan salah satu singkong yang laris, dimana dalam makanan ini ada perpaduan bumbu Indonesia dan Barat, Singkong Talk dibuat lebih mirip dengan roti jaman sekarang sehingga membuat masyarakat tertarik, karena masyarakat sekarang banyak yang menyukai roti. Kue singkong coklat merupakan kue berbahan dasar singkong yang diberi paduan rasa coklat. Ada juga Tela-tela yang merupakan singkong goreng yang kemudian diberi berbagai macam bumbu rasa balado, keju, jagung bakar dan lain sebagainya. Pada dasarnya, singkong pada sekarang sama halnya dengan makanan modern saat ini, hanya di zaman modern ini lebih bervariasi. Dengan cerdik, manusia merubah singkong yang semula hanya di konsumsi di desa kemudian di bawa ke kota dengan tampilan meniru makanan-makanan modern saat ini. Dengan sedikit perpaduan antara singkong dengan adanya variasi campuran makanan modern, maka berubahlah singkong dari semula dikenal di desa kini menjamur di perkotaan.
Selain itu para produsen singkong juga tak kalah cerdik dengan para pemodal makanan-makanan modern saat ini. Para penjual dan pengusaha singkong modern pun juga mengcreate masyarakat dengan berbagai citraan dan symbol yang dibuat semenarik mungkin, sehingga para masyarakat pun tertarik dengan adanya singkong modern ini. Pada zaman sekarang ini permainan simbol-simbol sangat mempengaruhi masyarakat bahkan dapat merubah pandangan masyarakat, tentunya symbol yang menarik, bagus, seperti halnya yang ada dalam singkong modern dimana kemasannya di buat semenarik mungkin sehingga membuat siapa yang melihat tergiur. Selama ini kebanyakan para pengusaha singkong bermain pada rasa dan citraan yang dibuat melalui gambar, symbol, maupun iklan. Dan sekarang ini, di kota-kota besar khususnya Surabaya sendiri berbagai nmakanan yang berbahan singkong kini telah menjamur dan menjadi makanan yang cukup di gemari oleh masyarakat tentunya dengan tampilan yang berbeda. Kini singkong tak hanya di desa tapi juga merambah ke perkotaan.
Singkong dan Perilaku Masyarakat Urban
Masyarakat urban merupakan masyarakat yang tinggal di perkotaan yang muncul sebagai akibat dari kuatnya magnet kota. Masyarakat ini berasal dari penjuru-penjuru daerah, dari desa, dan juga daerah pinggiran. Mereka ummunya ingin mengadu nasib di perkotaan untuk mencari pekerjaan, berwirausaha, dan tujuannya adalah memenuhi kebutuhan agar lebih baik. Masyarakat urban yang datang ke kota kebanyakan dari mereka adalah mendirikan usaha-usaha sendiri. Seperti halnya kita ketahui di Surabaya bahwa para penjual di pasar, para penjual makanan yang berada di sekitar kampus, warung-warung pinggir jalan yang berentet di Jalan Karangmenjangan juga di Jalan Dharmawangsa, penjualnya adalah para masyarakat dari penjuru daerah lain. Kebanyakan dari mereka mengadu nasib ke kota besar untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin hari semakin tinggi.
Sama halnya dengan para pengusaha singkong yang berada di kota-kota. Penulis sempat melakukan sedikit wawancara dan observasi terhadap para penjual singkong moderen yang berada di sekitar Kampus B Universitas Airlangga, dan hasilnya adalah kebanyakan dari para penjual singkong ini adalah mereka yang bukan orang yang berdomisili Surabaya melainkan hampir semua dari penjual singkong adalah mereka dari daerah lain. Dapat ditarik kesimpulan bahwasanya para penjual singkong yang berada di kota-kota adalah mereka yang berasal dari daerah atau masyarakat urban, mereka mempunyai ide baru untuk mentransformasi singkong mengikuti kondisi jaman. Singkong instan, cepat saji, dan bercita rasa khas moderen. Para masyarakat urban ini bermain mengikuti arus jaman, mengikuti tuntutan modernitas, sehingga dengan hasrat “memenuhi kebutuhan hidup”, “mencari penghasilan”, maka muncul ide untuk membuat singkong sesuai tuntutan modernitas, sesuai permintaan masyarakat modern saat ini.
Selain para penjual dan para pengusaha singkong maka ada pula penikmat singkong. Siapakah mereka? Para penikmat singkong di kota sudah dari berbagai macam kalangan dengan adanya tampilan singkong yang beraneka ragam saat ini. Singkong telah masuk ke pusat perbelanjaan, pusat oleh-oleh dan juga mall-mall di Indonesia. Secara otomatis, singkong telah menyebar di berbagai kalangan dan inilah yang membuat singkong menjadi eksis, tidak hanya masyarakat desa yang menikmati tapi masyarakat kota pun bisa. Lalu, bagaimana perilaku masyarakat urban sendiri terhadap singkong moderen? Masyarakat urban merupakan masyarakat yang berasal dari daerah. Menurut analisa penulis sendiri, masyarakat urban yang mengetahui adanya singkong moderen ini pastinya senang dengan adanya singkong modern, dengan catatan mereka masyarakat urban yang berpenghasilan menengah. Karena bagi masyarakat yang berpenghasilan menengah membeli singkong modern dengan citarasa yang baru bisa mereka jangkau. Sedangkan bagi masyarakat urban yang berpenghasilan rendah membeli singkong moderen adalah hal yang susah, karena ada yang tentunya lebih mereka prioritaskan dari pada membeli singkong moderen ini. Selain itu, banyak pula masyarakat urban yang mengabaikan keberadaan singkong ini. Bagi mereka masyarakat urban yang telah terseret dalam arus modernitas, mereka memilih membeli makanan lain yang lebih moderen, ber brand luar yang meningkatkan prestise mereka sebagai masyarakat moderen, ada gengsi pada diri mereka untuk kembali mencicipi rasa singkong kembali. Tapi tidak semua masyarakat urban demikian, sebagian masyarakat urban sendiri merasa terobati dengan adanya singkong yang masuk ke perkotaan. Karena dengan begini singkong bisa mereka nikmati dengan cara cepat, instan, dengan beragam citarasa, dan sesuia tuntutan modernitas sat ini.
Singkong dan Identitas Antar Waktu
Telah kita ketahui dari berbagai penjelasan mengenai singkong di atas bahwasanya singkong telah mengalami perubahan, dari singkong yang semula tradisional hanya di rebus atau di goreng kini mengalami perubahan menjadi beranekaragam makanan baru. Seiring berkembangnya zaman maka segala sesuatunya pun juga mengalami perubahan termasuk singkong. Banyak sekarang ini makanan tradisional yang di moderenkan. Makanan-makanan ini hanya tinggal di poles sedikit, dengan lebih cantik, dengan tampilan menarik, dan dengan dukungan  berbagai citraan maka jadilah. Banyak pula makanan tradisional yang telah merambah mall-mall karena citarasanya yang khas dan tidak kalah dengan makanan yang berasal dari luar. Tentunya, dengan harga yang bisa dibilang fantastis.
Singkong yang semula sebagai identitas pangan yang dibudidayakan di Jawa dan sekitarnya dibuat sedemikian rupa untuk menyerupai pangan dalam rangka pemenuhan tuntutan modernitas. Modernitas ini tidak dilandaskan pada efisiensi dan efektifitas namun sekedar nama belaka. Dapat kita lihat sendiri pada kenyataannya bahwa segala macam makanan moderen belum tentu menyehatkan. Makanan-makanan yang dibuat dengan berbagai macam bumbu-bumbu masakan moderen, dan berbagai penyedap rasa yang hanya tinggal beli di pasaran, berasal dari pabrik-pabrik dimana masyarakat si penjual tidak mengetahui proses pembuatannya, benarkah makanan yang seperti ini menyehatkan. Berdasarkan data dari para ahli kesehatan dan para peneliti menyatakan bahwa penyedap rasa menyebabkan rusak otak anak-anak, sedangkan untuk orang dewasa akibatnya bisa memicu degeneratif syaraf otak, dengan munculnya parkinson, huntington, ALS dan alzheimer alias pikun. Namun, di Indonesia kurang sekali wacana menggencarkan berita ini terhadap masyarakat dan juga masyarakat yang tahu pun kurang menyadari. Bagi sebagian orang menganggap kesehatan adalah urusan akhir yang penting adalah urusan lidah.
Selain itu makanan saat ini, khususnya singkong telah bertransformasi dari singkong biasa yang tradisional, singkong yang menjadi khas masyarakat timur kini telah berduet dengan makanan khas barat. Salah satu contoh yang bisa di ambil yaitu singkong keju. Singkong yang merupakan khas timur, dan keju yang merupakan khas barat. Perpaduan antara dua makanan bertransformasi menjadi makanan baru. Seiring berjalannya waktu inilah identitas yang Indonesia. Mengikuti perkembangan zaman segalanya pun juga ikut berkembang, mengikuti arus. Menurut penulis, dari analisa singkong ini dapat diketahui bagaimana identitas singkong berubah seiring waktu dari tadisional ke moderen. Adanya percampuran dari berbagai macam pengaruh dari luar yang masuk ke Indonesia membuat segalanya mengalami perubahan, adanya asimilasi: percampuran dua budaya yang menghasilkan budaya baru. Dan ini sama halnya dengan singkong sekarang ini. Lalu, dimanakah letak identitas murni sekarang ini, identitas pada diri kita masing-masing. Masihkah ada atau jangan-jangan sudah tidak ada. Inilah yang masih menjadi pertanyaan. Pada nyatanya, modernitas telah membawa perubahan pada masyarakat Indonesia, gaya hidup, lifestyle, dan juga perilaku masyarakat.
/3/
            Pada akhirnya modernitas yang terjadi di Indonesia telah menciptakan banyak perubahan, pada kenyatannya pun bisa kita lihat sendiri mulai gaya hidup masyarakat, lifestyle, dan juga perilaku masyarakat yang meniru orang barat. Berbagai macam identitas khas Indonesia kini mengabur telah bercampur dengan modernitas sehingga perlu dipertanyakan kembali mana identitas diri kita sendiri dan mana pula yang bukan identitas. Dari pembahasan singkong ini mungkin bisa sedikit terkuak perilaku-perilaku masyarakat yang mulai meninggalkan adat ketimuran yang sebenarnya mengandung ajaran-ajaran yang tinggi dan beralih ke moderen. Dan dari Singkong, makanan taradisional ini kita bisa mengaca bagaimana kondisi Indonesia sekarang ini, mana identitas dan mana yang bukan identitas. Masihkah ada identitas atau sebenarnya sudah tidak ada.